Jumat, 31 Januari 2014

Kepentok Cinta Kakak Kelas


#2

Namira melirik cewek itu dan berkata, “Dari mana lo tahu?”
“Bokap Gue salah satu penyumbang dana buat sekolah ini.”
“Ohhh...” namira tak melanjutkan ucapannya.
“Oh iya, kita belum kenalan, Nama Gue Rubi.”

Namira heran mendengar nama cewek itu, ”Rubi? Nama yang aneh...”
“Memang sih kedengarannya aneh, tapi Orang Tua Gue ngasih nama itu karena Rubi itu adalah nama sebuah batu yang sangat berharga dan berharga jual tinggi. Jadi aku ini yang berharga bagi mereka.”
“Hmmm.... Masuk akal!”. Namira.
“Nama loe siapa?”
“Gue Namira!”
“Senang bisa kenal sama loe Namira.”
Mereka berdua berjabat  tangan.

Semenjak itu, Namira dan Rubi berteman. Selama MOS mereka berdua selalu bersama.
“Widiiihh... Ketua Osisinya cakep, Bi?” Namira memberitahukan kepada Rubi bahwa ia melihat Ketua Osis yang menurutnya berwajah enak untuk dilihat.
“Mana, mana, mana?”
“Itu tuh...” Namira menunjuk salah seorang cowok yang sedang memberi pengarahan kepada anak baru yang mengikuti MOS.
“Wah iya... Bener, bener, bener!”

Ketika mereka sedang serius melihat Ketua Osis yang ganteng, tiba-tiba kakak kelasnya yang bernama Sisil bersama temannya, dengan sengaja menjatuhkan minumannya ke pakaian Namira.
“Upsss... Sorry.” Dengan wajah yang jutek Sisil menumpahkan minumannya.
“Akhhhh.... Baju Gue.” Namira kebingungan karena pakaiannya basah.
Rubi membela Namira, “Kalau jalan liat-liat dong! Gimana sih loe.”

Dengan wajah yang nyolot Sisil membalas, ”Ehh! Lo anak baru ya? Anak baru ajah udah nyolot sama kakak kelas, gimana nantinya loe.”
“Gue hargain loe kakak kelas, tapi jangan begini dong, mentang-mentang kita anak baru, jadi loe bisa lakuin kita seenak loe!” Rubi malah tambah nyolot.
Mendengar pertengkaran itu, Ketua Osis yang ganteng itu menghampiri.
“Ada apaan nih ribut-ribut?”

Sisil langsung memegang tangan si Ketua Osis, “Ini, Adam... Anak baru kelas satu udah nyolot sama Gue!” Sisil memanja.
Dalam hati Namira, “Ohhh, jadi namanya Adam.”
“Bohong tuh!” Jawab Rubi.
“Yeee.. anak baru ajah udah blagu loe.” Sisil menimbali.

Adam semakin bingung dengan kedian ini.” Sebenernya kejadiannya gimana sih?”
Rubi menjelaskan, “Begini Kak, Kak yang ini (Rubi menunjuk Sisil) numpahin minumannya ke baju teman saya. Bukannya minta maaf, malah marahin kita Kak.”
“Sisil! Apa bener yang dibilang mereka?” Adam bertanya kepada Sisil.
Sisil tidak menjawab, ia kesel dengan Adam karena lebih membela Namira dan Rubi. Akhirnya Sisil dan teman-temannya pergi meninggal mereka bertiga. Adam memberi pertolongan kepada Namira.

“Loe gak apa-apa kan? Nih pake.” Ucap Adam sambil mengeluarkan sapu tangan dari saku bajunya, dan memberikannya pada Namira yang ketika itu berpakaian basah.
“Gue gak apa-apa kok. Makasih...” Namira mengambil sapu tangan yang diberikan Adam.
“Maafin Sisil ya?” Adam mewakili Sisil meminta maaf.
“Iya kak.” Namira.
“Kalau boleh tahu nama loe sapa?” Adam melihat Namira.
“Namira nama Gue... dan yang ini temen Gue, Rubi.” Namira memperkenalkan Rubi juga.
“Nama Gue Adam! Gue duluan ya.” Adam pergi meninggalkan Namira dan Rubi.





Semenjak kejadian itu, Namira menjadi semakin sangat betah bersekolah di SMA  itu. Apalagi karena ada Adam yang banyak dikejar-kejar sama cewek-cewek termasuk Sisil.
Namanya juga Kakak kelas, apalagi kalau Kakak kelasnya ganteng kaya Adam.
Keesokan harinya, Namira baru saja turun dari mobilnya. Ternyata Rubi juga baru turun dari mobilnya. Masuk pintu gerbang, ” Namira! Tungguin Gue.” Rubi berlari menghampiri Namira.
Namira melirik kebelakang, “Ternyata lo, Bi. Ayo cepetan!.”



Bersambung

Kepentok Cinta Kakak Kelas

Nama aku Namira. Aku anak seorang dokter. Umurku 13 tahun dan hobiku ngobrol dan cerita apa ajah sama temen-temen yang sayang sama aku. Aku orangnya cerewet. Kata temen-temen aku sih. Kalau aku lagi berbicara sudah seperti bebek yang nyari induknya. Hehehe....

“Pindah Sekolah adalah hal yang menyebalkan buat aku. Bayangin ajah sudah lima kali aku pindah sekolah. Dari SD, sampai sekarang. Aduhh... aduhh berapa kali lagi nih aku harus pindah sekolah?.
aku pindah sekolah dari derah yang satu ke daerah yang lain. Mulai dari Bogor, Semarang, Bali, Cirebon, dan Jakarta. Maklum ajah Orang Tua aku dokter yang sering dipindah tugaskan kemana-mana. 
Sekarang sih aku sudah SMP.. Jadi, kata Nyokap Gue, Gue gak akan pindah lagi. Karena bokap Gue gak akan dipindah tugaskan. Huhhh... Akhirnya sekarang Gue sekolah di Jakarta.”

Ini hari pertama masuk sekolah. Cuacanya cerah! Terlihat dari kanan kiri jalan sekolah yang ramai oleh siswa-siswinya. Banyak yang berkomentar sekolah ini adalah sekolah favorit di Jakarta. Betapa beruntungnya Namira. Tapi bagi Namira, Sekolah favorit atau tidak, yang penting adalah pendidikannya. Bukan dari favorit atau tidaknya sebuah sekolah. Yang ada dipikiran Namira sekarang adalah bagaimana cara mendekatkan diri pada lingkungan sekolah yang baru ini. Biasanya pertama kali masuk sekolah baru, mereka saling tidak bertanya. Hal itu dikarenakan belum saling mengenal. Ini nihhh... yang sangat tidak disukai oleh Namira.Pertama masuk sekolah baru pasti ada yang namanya MOS atau Masa Orientasi Siswa. 

“Banyak juga ya murid barunya.” Ujar Namira. 

Ketika Namira mengucapkan kata-kata tersebut, disamping Namira ada seorang cewek. Cewek itu juga adalah salah satu murid baru di SMP ini. Perawakan cewek itu kurus kecil, berkulit putih, dan berambut panjang. Ia menimbal balik ucapan Namira.

“Iya, murid disini dari tahun ketahun memang selalu banyak, maklum ajah namanya juga sekolah favorit.” Timbal cewek tadi.